Friday, 1 January 2016

Makalah Ilmu Tauhid: Rukun Iman dan Sejarah Ilmu Kalam



Rukun Iman


1.      Iman Kepada Allah SWT
Iman kepada Allah adalah meyakini bahwa Allah itu Maha Esa dan tiada Tuhan selain Allah. Firman Allah dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 136:
وَإِلَٰهُكُمۡ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞۖ لَّآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلرَّحۡمَٰنُ ٱلرَّحِيمُ ١٦٣
Artinya:      Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

Implikasi Iman kepada Allah adalah mendirikan sholat, menafkahkan sebagian rizqi, selalu berbuat kebajikan dan melaksanakan perintah Allah dari segi ibadah.

2.      Iman Kepada Malaikat Allah
Iman kepada Malaikat adalah meyakini bahwa Allah telah menciptakan Malaikat untuk selalu melakukan perintah-Nya. Firman Allah dalam Q.S. Al-Anbiya’ 19-20:
وَلَهُۥ مَن فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ وَمَنۡ عِندَهُۥ لَا يَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِهِۦ وَلَا يَسۡتَحۡسِرُونَ ١٩ يُسَبِّحُونَ ٱلَّيۡلَ وَٱلنَّهَارَ لَا يَفۡتُرُونَ ٢٠
Artinya:      Dan kepunyaan-Nya-lah segala yang di langit dan di bumi. Dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tiada (pula) merasa letih. Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya

Implikasi Iman kepada Malaikat Allah adalah selalu berhati-hati setiap melakukan sesuatu, senantiasa beeramal sholeh dan selalu taat pada Allah.

3.      Iman Kepada Kitab Allah
Iman Kepada Allah adalah meyakini adanya kitab-kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad dan Nabi-Nabi sebelumnya. Firman Allah dalam Q.S. An-Nisa’ ayat 136:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ ءَامِنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَٱلۡكِتَٰبِ ٱلَّذِي نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَٱلۡكِتَٰبِ ٱلَّذِيٓ أَنزَلَ مِن قَبۡلُۚ وَمَن يَكۡفُرۡ بِٱللَّهِ وَمَلَٰٓئِكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَٰلَۢا بَعِيدًا ١٣٦
Artinya:      Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya

Implikasi Iman kepada Kitab Allah adalah yakin akan kitab Al-Qur’an dan kitab-kitab sebelumnya, senantiasa membaca, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an.




4.      Iman Kepada Rasul Allah
Iman kepada Rasul Allah adalah meyakini bahwa Rasullullah itu benar-benar utusan Allah yang diutus untuk umat manusia guna menyampaikan wahyu Allah. Firman Allah dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 285:
ءَامَنَ ٱلرَّسُولُ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيۡهِ مِن رَّبِّهِۦ وَٱلۡمُؤۡمِنُونَۚ كُلٌّ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَمَلَٰٓئِكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ لَا نُفَرِّقُ بَيۡنَ أَحَدٖ مِّن رُّسُلِهِۦۚ وَقَالُواْ سَمِعۡنَا وَأَطَعۡنَاۖ غُفۡرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيۡكَ ٱلۡمَصِيرُ ٢٨٥
Artinya:      Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami taat". (Mereka berdoa): "Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali"

Implikasi Iman kepada Rasul Allah adalah optimis, tabah, sabar, peduli terhadap kaum dhu’afa dan selalu melaksanakan ibadah-ibadah sunnah.

5.      Iman Kepada Hari Kiamat
Iman kepada Hari Kiamat berarti kita benar-benar dan dengan sepenuh hati meyakini akan adanya hari kiamat dan pastinya akan terjadi dan menimpa umat manusia di seluruh jagat raya ini. Firman Allah dalam Q.S. Thaha ayat 15:
إِنَّ ٱلسَّاعَةَ ءَاتِيَةٌ أَكَادُ أُخۡفِيهَا لِتُجۡزَىٰ كُلُّ نَفۡسِۢ بِمَا تَسۡعَىٰ ١٥
Artinya:      Segungguhnya hari kiamat itu akan datang Aku merahasiakan (waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan

Implikasi Iman kepada Hari Akhir adalah berhati-hati dan memperbanyak amal sholeh untuk bekal di akhirat.

6.      Iman Kepada Qodho dan Qodar Allah
Iman Kepada Qodho dan Qodar adalah meyakini dan mengimani atas apapun ketetapan Allah dan kekuasaan Allah. Firman Allah dalam Q.S. Al-Ahzab ayat 38:
مَّا كَانَ عَلَى ٱلنَّبِيِّ مِنۡ حَرَجٖ فِيمَا فَرَضَ ٱللَّهُ لَهُۥۖ سُنَّةَ ٱللَّهِ فِي ٱلَّذِينَ خَلَوۡاْ مِن قَبۡلُۚ وَكَانَ أَمۡرُ ٱللَّهِ قَدَرٗا مَّقۡدُورًا ٣٨
Artinya:      Tidak ada suatu keberatanpun atas Nabi tentang apa yang telah ditetapkan Allah baginya. (Allah telah menetapkan yang demikian) sebagai sunnah-Nya pada nabi-nabi yang telah berlalu dahulu. Dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku
     
Implikasi Iman kepada Qodho dan Qodar adalah selalu bersyukur dan bersabar atas apa yanng telah terjadi pada dirinya.
  

Sejarah Ilmu Kalam

Munculnya Ilmu Kalam dipicu oleh persoalan politik yang menyangkut peristiwa pembunuhan ‘Utsman bin Affan yang berbuntut pada penolakan Mu’awiyah atas kekholifahan Ali bin Abi Thalib. Ketegangan antara Mu’awiyah dan Ali bin Abi Tholib mengkristal menjadi Perang Shiffin yang berakhir dengan keputusan tahkim yakni tawaran yang diusulkan untuk memecah kubu Sayyidina ali menjadi dua bagian yaitu Syi’ah dan Khowarij (arbitrase). Sikap Ali yang menerima tipu muslihat Amr bin Ash, utusan dari pihak Mu’awiyah dalam tahkim, ia dalam keadaan terpaksa, itu tidak disetujui oleh sebagian tentaranya dalam arti menentang. Mereka memandang Ali bin Abi Tholib telah berbuat salah sehingga mereka meninggalkan barisannya. Dalam sejarah Islam, mereka terkenal dengan sebutan Khawarij, yaitu orang yang keluar dan memisahkan diri atau secerders.Sedangkan, sebagian besar pasukan yang membela dan tetap mendukung Ali menamakan dirinya sebagai kelompok Syi’ah.
Adapun faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya Ilmu Kalam dapat dibagi menjadi dua , yaitu faktor dari dalam ( intern) dan faktor dari luar ( extern).
1.    Faktor Intern
Adapun faktor-faktor intern dari ilmu kalamada tiga macam, yaitu:
a.    Sesungguhnya Al-Qur’an itu sendiri disamping merupakan seruan dakwahnya kepada tauhid dan mempercayai kenabian, terdapat pula perkara yang berhubungan soal menyinggung golongan-golongan dan agama yang tersebar pada masa Nabi Muhammad SAW.lalu Al-Qur’an itu menolaknya dan membatalkan pendapat-pendapatnya.
b.    Sesungguhnya kaum muslimin telah selesai menaklukkan negeri-negeri baru, dan keadaan mulai stabil serta melimpah ruah rezekinya,disinilah akal pikiran mereka mulai memfilsafatkan agama.
c.    Masalah –masalah politik, yakni pada detik-detik saat Rasullullah wafat, beliau tidak memberikan satu isyaroh pun tentang siapa yang akan menggantikan beliau dalam masalah Khilafah dan Imamah, sehingga terjadilah pro dan kontra di kubu umat Islam pada waktu itu.
2.    Faktor Extern
Adapun faktor-faktor extern ada tiga, yaitu:   
a.    Sesungguhnya kebanyakan orang-orang memeluk islamitu sesudah kemenangannya, semula mereka memeluk berbagai agama, yaitu: Agama Yahudi, Kristen, Manu, Zoroaster, Brahmana, Sabiah, Atheisme dan lain-lain.
b.    Sesungguhnya golongan islam yang terdahulu terutama golongan Mu’tazilah telah memutuskan perhatiannya yang terpenting yaitu untuk dakwah islamiah dan bantahan alasan orang-orang yang memusuhi islam.
c.    Faktor ketiga ini merupakan kelanjutan faktor yang kedua. Yaitu sesungguhnya kebutuhan para mutakallimin terhadap filsafat itu adalah untuk mengalahkan (mengimbangi) musuh-musuhnya, mendebat mereka dengan mempergunakan alasan-alasan yang sama, maka mereka terpaksa mempelajari filsafat Yunani dalam mengambil manfaat logika, terutama dari segi Ketuhanan. Kita mengetahui An-Nadhami (tokoh Mu’tazilah) mempelajari filsafat Aristoteles dan menolak baberapa pendapatnya.

No comments:

Post a Comment